Minggu, 31 Maret 2013

makalah perkembangan peserta didik



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Perkembangan adalah serangkaian proses progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman (Hurlock, 1993:2). Manusia selalu dinamis dari semenjak pembuahan sampai ajal selalu terjadi perubahan. Dalam  rentang  kehidupannya,  manusia  melewati  tahap-tahap perkembangan dimana setiap tahap memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus  dikuasai  dan  diselesaikan.  Sebagian  besar  dari  kita  ingin  berusaha menguasai dan menyelesaikannya pada waktu yang tepat. Beberapa orang dapat berhasil, sedangkan yang lain kemungkinan tidak berhasil atau terlalu cepat dari tahap yang seharusnya.
Perkembangan Kehidupan Pribadi Sebagai Individu menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.
Adapun yang menjadi sumber dari pada tugas-tugas perkembangan tersebut menurut Havighurst adalah kematangan pisik, tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai dan aspirasi individu.
Sebagai insan yang selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan didalam kehidupannya, manusia pasti akan selalu berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kehidupannya. Oleh karena itu untuk memperbaiki kehidupannya, manusia akan berupaya dengan segala cara untuk mencapainya. Salah satu sarana yang ditempuh manusia adalah dengan menempuh pendidikan dalam rangka menempuh karier mereka saat telah memasuki lingkungan kerja.
Pendidikan, karier, dan kehidupan berkeluarga sendiri adalah hal yang saling berkaitan, bahkan tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat kita saksikan bahwa untuk menempuh suatu karier yang bagus, diperlukan pendidikan yang menunjang baik itu pendidikan formal dari sekolah dan perguruan tinggi maupun pendidikan informal yang didapat dari keluarga dan pembelajaran secara langsung di masyarakat. Dengan dipenuhinya pendidikan maka manusia pasti akan menyongsong karier yang cemerlang dan tentu saja harus diiringi dengan kerja keras dan doa karena walau pendidikan kita mencukupi tapi tidak diiringi dengan kerja keras maka sulit untuk mendapatkan karier yang kita inginkan, oleh karena itu dalam makalah ini akan kami bahas mengenai tugas perkembangan kehidupan pribadi, pendidikan dan karier, dan kehidupan berkeluarga.
B.     Batasan dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka kami mendapatkan batasan dan rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimana perkembangan kehidupan pribadi sebagai individu?
Bagaimana perkembangan kehidupan pendidikan dan kehidupan karier?
Bagaimana perkembangan kehidupan berkeluarga?
C.     Tujuan Pembuatan Makalah
            Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memberikan wawasan yang utuh, komprehensip dan mendalam tentang perkembangan kehidupan pribadi, pendidikan dan karier, dan kehidupan berkeluarga dengan berbagai karakteristik dan masalah-masalah yang dihadapi.
D.     Manfaat Pembuatan Makalah
            Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar para pembaca khusunya para calon pendidik memiliki dan mengerti akan wawasan yang utuh, komprehensif dan mendalam tentang perkembangan bahasa dan sosial itu sendiri
BAB II PEMBAHASAN 
A.      Perkembangan Kehidupan Pribadi sebagai Individu
Pengertian Kehidupan Pribadi dan Karakteristiknya
            Kehidupan pribadi seorang individu merupakan kehidupan yang utuh dan lengkap dan memiliki ciri khusus dan unik. Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek  emosional, sosial psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual yang terpadu secara integratif dengan faktor lingkungan kehidupan.
            Pada awal kehidupannya dalam rangka menuju pola kehidupan pribadi yang lebih mantap, seorang individu berupaya untuk mampu mandiri, dalam arti mampu mengurus diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi kebutuhan serta kebutuhan sehari-hari. Untuk itu diperlukan penguasaan situasi untuk menghadapi berbagai rangsangan yang dapat mengganggu kestabilan pribadinya.
            Kekhususan kehidupan pribadi bermakna bahwa segala kebutuhan dirinya  memerlukan pemenuhan dan terkait dengan masalah-masalah yang tidak dapat disamakan dengan individu yang lain. Oleh karenanya, setiap pribadi akan dengan sendirinya menampakkan ciri yang khas yang berbeda dengan pribadi yang lain.
            Berkaitan dengan aspek sosio-psikologis, setiap pribadi membutuhkan kemampuan untuk menguasai sikap dan emosinya serta sarana komunikasi untuk bersosialisasi. Dengan demikian, masalah kehidupan pribadi merupakan bentuk integrasi antara faktor fisik, sosial budaya, dan faktor psikologis. Disamping itu, seorang individu juga membutuhkan pengakuan dari pihak lain tentang harga dirinya, baik dari keluarganya sendiri maupun dari luar keluarganya. Tiap orang mempunyai harga diri dan berkeinginan untuk selalu mempertahankan harga diri tersebut.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Pribadi
Perkembangan pribadi menyangkut perkembangan berbagai aspek, yang akan ditunjukan dalam perilaku. Perilaku seseorang yang menggambarkan perpaduan berbagai aspek itu terbentuk di dala lingkungan. Sebagaimana diketahui, lingkungan tempat anak berkembang sangat kompleks.
            Seseorang individu, pertama tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga. Sesuai dengan tugas keluarga dalam melaksanakan misinya sebagai penyelenggara pendidikan yang bertanggung jawab, mengutamakan pembentukan pribadi anak. Dengan demikian, faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan keluarga beserta berbagai aspeknya. Seperti telah diuraikan di bagian terdahulu, perkembangan anak yang menyangkut perkembangan psikofisis dipengaruhi oleh: status sosial ekonomi, fisafat hidup keluarga, dan pola hidup keluarga seperti kedisiplinan, kepedulian terhadap kesehatan, dan ketertiban termasuk ketertiban menjalankan ajaran agama.
            Bahwa perkembangan kehidupan seseorang ditentukan pula oleh faktor keturunan dan lingkungan aliran nativisme menyatakan bahwa seorang individu akan menjadi ”orang” sebagaimana adanya yang telah ditentukan oleh kemampuan dan sifatnya yang dibawa sejak ia dilahirkan. Sedangkan aliran empirisme mengatakan sebaliknya bahwa seorang akan menjadi ”manusia” seperti yang dikehendaki oleh lingkungan. Kedua aliran itu menggambarkan bahwa faktor bakat dan pengaruh lingkungan sama-sama mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadinya. Pengaruh-pengaruh itu akan terpadu bersama-sama saling memberi andil ”menjadikan manusia sebagai manusia”. Aliran yang mengakui bahwa kedua aliran itu secara terpadu memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang adalah aliran konvergensi. Proses pendidikan Indonesia menganut aliran ini, seperti dinyatakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
 3. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Pribadi
Lingkungan kehidupan sosial budaya yang mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang amatlah kompleks dan heterogen. Baik lingkungan alami maupun lingkungan yang diciptakan untuk maksud pembentukan pribadi anak-anak dan remaja, masing-masing memiliki ciri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, secara singkat dapat dikatakan bahwa perkembangan pribadi setiap individu berbeda-beda pula sesuai dengan lingkungan di mana mereka dibesarkan.
Dua orang anak yang dibesarkan di dalam satu keluarga akan menunjukkan sifat pribadi yang berbeda, karena hal itu ditentukan oleh bagaimana mereka masing-masing berinteraksi dan mengintegrasikan dirinya dengan lingkungannya.
4. Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pribadi terhadap Tingkah Laku
Kehidupan merupakan rangkaian yang berkesinambungan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan kehidupan sekarang dipengaruhi oleh keadaan sebelumnya dan keadaan yang akan datang banyak ditentukan oleh keadaan kehidupan saat ini. Dengan demikian, tingkah laku seseorang juga dipengaruhi oleh hasil proses perkembangan kehidupan sebelumnya dan dalam perjalanannya berintegrasi dengan kejadian-kejadian saat sekarang.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika sejak awal perkembangan kehidupan pribadi terbentuk secara terpadu dan harmonis, maka dapat diharapkan tingkah laku yang merupakan pengejawantahan berbagai aspek pribadi itu akan baik. Kehidupan pribadi yang mantap memungkinkan seorang anak akan berperilaku mantap, yaitu : mampu menghadapi dan memecahkan berbagai permasalahan dengan pengendalian emosi secara matang, tertib, disiplin, dan penuh tanggung jawab.
5. Upaya Pengembangan Kehidupan Pribadi
Kehidupan pribadi yang merupakan rangkaian proses pertumbuhan dan perkembangan, perlu dipersiapkan dengan baik. Untuk itu perlu dilakukan pembiasaan dalam hal :
Hidup sehat dan teratur serta pemanfaatan waktu secara baik. Pengenalan dan pemahaman nilai dan moral yang berlaku di dalam kehidupan perlu ditanamkan secara benar.
Mengerjakan tugas dan pekerjaan praktis sehari-hari secar amandiri dengan penuh tanggung jawab.
Hidup bermasyarakat dengan melakukan pergaulan dengan sesama, terutama dengan teman sebaya. Menunjukkan gaya dan pola kehidupan yang baik sesuai dengan kultur yang baik dan dianut oleh masyarakat.
Cara-cara pemecahan masalah yang dihadapi. Menunjukkan dan melatih cara merespon berbagai masalah yang dihadapi.
Mengikuti aturan kehidupan keluarga dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.
Melakukan peran dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga. Di dalam keluarga perlu dikembangkan sikap menghargai orang lain dan keteladanan.
Di samping perlu diciptakan suasana keteladanan oleh pihak-pihak yang berwewenang, seperti orang tua di dalam keluarga, guru di sekolah, dan tokoh masyarakat dalam kehidupan sosial. Dalam suasana ini yang perlu ditonjolkan antara lain adalah sifat sportif dan kejujuran, berjuang keras dengan berpegang pada prispi yang maton (dapat dipercaya).
B.       Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
Pengertian kehidupan pendidikan dan karier
            Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. Kehidupan berkarier adalah pengalaman seseorang yang telah memasuki dunia kerja sedang menurut Garrison (1956) menyatakan bahwa setiap tahun jutaan pemuda dan pemudi memasuki dunia kerja yang mana peristiwa itu merupakan awal ia terjun ke dunia kerja dan penanda dimulainya kehidupan karier bagi mereka.
2. Karakteristik kehidupan pendidikan dan karier
Pada saat memasuki usia remaja telah terbentuk cita-cita saat memasuki usia dewasa nanti sehingga pada masa remaja inilah tergambar minat mereka untuk memilih jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Untuk mencapai hal itu remaja harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki, dan untuk mendapat pengetahuan dan keterampilan itu maka remaja harus mengikuti pendidikan yang merupakan persiapan baginya untuk memasuki dunia kerja dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan.
            Pada masa SMP remaja sudah mulai diperkenalkan dengan system pendidikan yang memiliki banyak guru dan setiap guru memiliki karakteristik yang berbeda, hal ini menunjukkan kepada remaja bahwa mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam lingkungan yang akan dihadapinya nanti. Sedang pada saat mereka memasuki tingkat SMA para remaja itu harus mampu berlatih menentukan pilihan dengan adanya penjurusan.
Remaja sendiri memiliki tiga lingkungan pendidikan yang kompleks dan saling berkaitan satu sama lain, yaitu:
Lingkungan Pendidikan Keluarga
Yaitu pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral yang berlaku dimasyarakat. Pola pendidikan anak dalam setiap keluarga berbeda karena pandangan hidup masing-masing keluarga yang berbeda, yang mana ada yang berorientasi dengan kehidupan agama, sosial, maupun ekonomi dalam mendidik anaknya.
Dalam lingkungan keluarga, remaja adalah peserta didiknya dan orang tuanya adalah pendidik atau guru bagi mereka. Dalam lingkungan keluarga sendiri ada 3 pola pendidikan yaitu pola otoriter, demokratis, dan liberal yang mana yang paling baik adalah pola pendidikan demokratis yang oleh ki hajar dewantara dirumuskan dalam Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.
2. Lingkungan Pendidikan Masyrakat
Yaitu lingkungan pendidikan yang ada dalam masyarakat dalam bentuk pendirian kelompok-kelompok atau paguyuban dan pendidikan kursus yang sengaja disediakan untuk anak dan remaja dalam mempersiapkan kehidupan mereka dikemudian hari. Pendidikan yang diselenggarakan masyarakat pada dasarnya berorientasi pada penyiapan remaja untuk memasuki dunia kerja. Selain itu pendidikan masyarakat juga menanamkan norma-norma masyarakat yang disetujui secara umum oleh masyarakat.
3.Lingkungan Sekolah
Yaitu lingkungan pendidikan yang artificial yang sengaja diciptakan untuk membina peserta didik ke arah tujuan yaitu menamkan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik sebagai bekal kehidupannya nanti. Dunia pendidikan, baik jalur sekolah maupun luar sekolah yang menyediakan berbagai jenis program yang diperkirakan relevan dengan jenis kebutuhan tenaga kerja yang ada pada masyarakat. Untuk menetapkan pilihan jenis pendidikan dan pekerjaan yang diidamkan banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor prestasi, prediksi masa depan yang menggambarkan minat dan bakatnya, faktor kehidupan yang dilihat dari lingkungan sekitarnya, dan kemampuan daya saing setiap individu.
 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kehidupan pendidikan dan karier adalah:
Faktor Sosial Ekonomi
Kondisi sosial ekonomi keluarga banyak menentukan perkembangan kehidupan pendidikan dan karier anak. Faktor ini menjuga pertimbangan anak dalam melanjutkan studinya karena berkaitan dengan keadaan ekonomi orang tua. Faktor ekonomi mencakup kemampuan ekonomi orang tua dan masyarakat. Hal ini dapat kita lihat pada anak yang berkemampuan intelektual tinggi namun tidak dapat menikmati pendidikan karena benturan ekonomi dan juga berlaku sebaliknya.
2.Faktor Lingkungan
Lingkungan disini meliputi 3 macam. Pertama, lingkungan masyarakat, seperti lingkungan masyarakat pertanian, perindustrian, perdagangan, lingkungan akademik atau lingkungan kurang terdidik. Kedua adalah lingkungan rumah tangga dan sekolah karena lingkungan ini sangat mempengaruhi kehidupan remaja baik pendidikan maupun cita-citanya, dan juga menjadi sarana pembentukan karakter anak berdasarkan peraturan-peraturan yang diterapkan didalam lingkungan. Ketiga, yaitu lingkungan teman sebaya, yang mana pergaulan teman sebaya mempengaruhi kehidupan masing-masing remaja, yang mana dengan adanya pengaruh itu remaja akan menjadi dirinya masing-masing sesuai dengan jenis kelaminnya.
3.Faktor Pandangan Hidup
Lingkungan dapat membentuk suatu pandangan hidup seseorang. Pengejawantahan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang, terutama dalam menyatakan cita-cita hidupnya. Dalam pemilihan pendidikan sendiri, seorang remaja dipengaruhi latar belakangnya, yaitu pada remaja dari keluarga kurang mampu akan berpikir untuk menjadi kaya dengan menempuh pendidikan yang cepat untuk mendapat kekayaan dengan menempuh pendidikan kedokteran, ekonomi, dan ahli teknik.
Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier Terhadap Tingkah laku dan Sikap
Pada beberapa keluarga memandang pendidikan kurang penting sebab mereka hanya melihat pendidikan dari jenjang pendidikan dasar yang mana mengajarkan ilmu-ilmu dasar yang memang belum dapat diaplikasikan untuk mendapat pekerjaan.
Sikap remaja terhadap pendidikan sekolah sangat dipengaruhi oleh karakteristik guru yang mengajarnya. Guru yang baik di mata remaja bukan hanya tergantung pada keadaan guru tersebut melainkan pada banyak aspek yang mana yang paling utama adalah bagaimana guru itu “menolong dan membantu muridnya” dengan memberi nilai yang tinggi. Hal ini sangat berbahaya bagi sekolah karena mengaburkan tugas guru yaitu membimbing dan menilai berdasarkan faktor objektif dan tidak hanya mengandalkan emosionalnya.
Perbedaan Individu dalam Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
Pencapaian tingkat pendidikan seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat kecedasan atau IQ-nya. IQ yang berbeda membuat tingkah laku setiap individu itu berbeda dan berpengaruh pada perkembangan kehidupan pendidikan dan kariernya.
2.Upaya Pengembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
Dalam pengembangan kehidupan pendidikan dan karier, orang tua perlu memahami kemajuan pendidikan baik disekolah atau di luar sekolah. Oleh karena itu para remaja masih memerlukan bimbingan dan pengarahan dari orang tua dan para guru mereka.
a.      Perkembangan karier remaja
Dalam arti sempit, pendidikan merupakan persiapan menuju suatu karier, sedangkan dalam arti luas pendidikan itu merupakan bagian dari proses perkembangan karier remaja. Menurut Ginzberg (Alexander, dkk., 1980) perkembangan kariernya telah sampai pada periode pilihan tentatif dan sebagian berada pada periode pilihan realistis, sedangkan menurut Super (Alexander, dkk., 1980) perkembangan karier anak remaja itu berada pada tahap eksplorasi, terutama subtahap tentatif dan sebagian dari subtahap transisi.
Perkembangan karier remaja yang menurut Ginzberg ada pada periode pilihan tentatif (11-17 tahun) itu ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang. Periode tentatif ini meliputi 4 (empat) tahapan, yaitu :
1.      Tahap minat (umur 11-12 tahun)
Remaja sudah mulai mempunyai rencana dan karier yang didasarkan pada minat. Pilihan didasarkan atas faktor-faktor subjektif, belum didasarkan atas pertimbangan – pertimbangan objektif.
2.      Tahap kapasitas (umur 12-14 tahun)
Remaja mulai menggunakan keterampilan dan kemampuan pribadi sebagai pertimbangan dalam memilih rencana kariernya. Selain itu remaja pada tahap ini mulai mengidentikkan dirinya dengan tokoh idolanya.
3.      Tahap nilai (umur 15-16 tahun)
Remaja telah mulai menganggap penting peranan nilai pribadi dalam proses pemilihan karier. Dimana anak mulai tahu akan kemampuan dirinya sendiri , sadar akan gaya hidup, dan mulai menganggap waktu adalah hal yang sangat penting.
4.      Tahap transisi (umur 17-18 tahun)
Pada tahap ini remaja bergerak dari pemikiran yang masih dipinggir ke pemikiran yang lebih sentral yaitu remaja tersebut mulai berpikir cepat, konkret, dan realistis terhadap pekerjaan yang akan ditekuninya.
Pada periode ini remaja telah memasuki tahap eksplorasi yaitu mencari beberapa alternatif pekerjaan yang cocok, dan tahap kristalisasi yaitu telah memilih suatu karier. Tahap akhir dari perkembangan seseorang yaitu ia telah memiliki pekerjaan yang mantap dengan tugas dan posisi yang spesifik.
b.      Masalah yang Dihadapi
Dalam proses perkembangan karir itu remaja sering mengalami berbagai hambatan dan masalah, baik yang berasal dari dalam dirinya sendiri atau dari lingkungannya. Dari dalam diri seperti ketidaksesuaian antara minat dan kemampuan, dari lingkungan misalnya dari faktor orang tua yang menginginkan anaknya menjadi dokter, sedangkan anaknya menginginkan menjadi astronot. Ketidaksesuaian tersebut akan menimbulkan permasalahan serius, terutama masalah karir. Untuk menghadapi permasalahan tersebut Sherter menyarankan hal-hal berikut :
Pelajari dirimu sendiri, karena kesadaran diri tentang bakat, kemampuan dan ciri-ciri pribadi yang dia miliki merupakan kunci dari ketetapan perencanaan karir
Di bidang apa kamu merasa paling sreg (comfortable)
Tulislah rencana dan cita-citamu secara secara formal
Biasakan dirimu dengan tuntutan pekerjaan tertentu yang kamu minati
Tinjau dan bicarakan lagi rencana karirmu itu dengan orang lain
Jika ternyata pilihan karirmu tidak cocok, hentikan.
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, remaja dapat dibantu dalam menghadapi permasalahan perkembangan dan pilihan karir melalui kegiatan layanan bimbingan karir di SLTP dan SLTA, kegiatan-kegiatan tersebut antara lain :
Pemahaman diri : bakat, kemampuan, minat, keterampilan dan ciri-ciri pribadi
Pemahaman lingkungan : lingkungan pendidikan dan lingkungan pekerjaan serta berbagai kondisinya
Cara-cara mengatasi masalah dan hambatan dalam perencanaan dan pemilihan karir sehubungan dengan kemungkinan keterbatasan lingkungan dan keadaan diri
Perencanaan masa depan
Usaha penyaluran, penempatan, pengaturan dan penyesuaian.
C.    Tugas Perkembangan Remaja Berkenaan dengan Kehidupan Berkeluarga
Pengertian kehidupan berkeluarga
Secara biologis pertumbuhan remaja telah mencapai kematangan seksual, yang berarti bahwa secara biologis remaja telah siap melakukan fungsi produksi. Kematangan fungsi seksual tersebut berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja dan telah mulai tertarik terhadap lawan jenis. Dorongan seksual pada masa remaja cukup kuat, sehingga perlu dipersiapkan secara mantap tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan, karena masalah tersebut mendasari pemikiran mereka untuk mulai menetapkan pasangan hidupnya (Garrison, 1956). Dalam situasi pergaulan yang khusus atau berkencan, seorang gadis hendaknya dalam sikap pasif dan perjaka yang lebih bersikap aktif.
Pada umumnya remaja khususnya wanita tidak mengalami kesulitan untuk menerima tugas tersebut. Hanya sebagian kecil dari mereka mengalami sedikit kesulitan umumnya mereka yang mengalami kesulitan itu adalah gadis yang menginginkan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Mereka merasa dan menganggap dirinya memiliki potensi yang sama dengan laki-laki, sehingga ia ingin bebas dan mandiri seperti halnya laki-laki. Ia lebih mengagumi kehebatan ayah, sehingga pemikirannya terbawa untuk ingin sama dengan ayahnya (Kasiram, 1985).
2. Timbulnya cinta dan jatuh cinta
Hampir setiap pemuda baik laki-laki maupun perempuan mempunyai dua tujuan utama, pertama menemukan jenis pekerjaan yang sesuai dan kedua menikah dan membangun sebuah rumah tangga. Hal ini tidak selalu harus muncul dalam aturan tertentu, tetapi perlu dicatat bahwa seorang remaja akan mengalami jatuh cinta di dalam masa kehidupannya setelah mencapai belasan tahun (Garrison, 1956).
Alasan atau faktor yang mempengaruhi jatuh cinta bermacam-macam, antara lain adalah faktor kepribadian, faktor fisik, faktor budaya, latar belakang keluarga, dan faktor kemampuan. Seperti halnya ada istilah pemilihan pasangan berdasarkan bibit, bebet, dan bobot.
Para ahli ilmu jiwa sependapat bahwa konsepsi yang menentukan saling tertariknya antara person relevan dengan upaya menciptakan hubungan yang akrab (intim) dan hal itu berlangsung dalam kurun waktu yang relative panjang. Hal ini ditentukan oleh banyak hal, antara lain penampilan masa kini, antisipasi masa depan, pertimbangan biaya, dan hal yang berkaitan dengan peranan masing-masing pihak dalam mengawali dan menjaga hubungan satu sama lain (Levinger, 1980). Menciptakan hubungan yang intim, dicapai melalui tiga tahap yaitu : tahap eksplorasi yaitu menjajaki masalah-masalah yang berhubungan dengan pujian atau penghargaan dan keuangan. Tahap penawaran dimana pasangan itu menjalin berbagai janji. Tidak ada ketentuan formal dalam perjanjian ini, tetapi yang muncul dan dianggap penting dalam hal ini adalah saling pengertiannya tentang latar belakang hubungan mereka. Terakhir adalah tahap komitmen, pada tahap ini ditandai oleh saling ketergantungan masing-masing. Disamping tiga tahap ini ada tahap keempat yang disebut tahap institusionalisasi yang ditandai kesepakatan-kesepakatan untuk hidup masa depan. Hal ini juga ditandai oleh pemahaman satu sama lain termasuk pemahaman pihak lain yang menyaksikan hubungan tersebut (Backman, 1974).
Namun menurut Levinger ada perbedaan pandangan tentang tahap-tahap yang ada dalam perkembangan keakraban hubungan antar remaja. Perubahan perilaku itu secara ringkas dikemukakan oleh Burgess dan Huston sebagai berikut :
Mereka lebih sering berhubungan dalam periode waktu yang agak lama
Mereka mencapai pendekatan bila berpisah dan merasa ada peningkatan hubungan bila bertemu kembali
Mereka terbuka satu sama lain tentang perasaan yang mereka rahasiakan dan secara fisik menunjukkan keakraban
Mereka menjadi lebih terbiasa dan saling berbagi perasaan suka dan duka
Mereka mengembangkan system komunikasi mereka sendiri dan komunikasi itu meningkat lebih efisien
Mereka meningkatkan kemampuan masing-masing dalam merencanakan dan mengantisipasi kenyataan kehidupan
Mereka menyinkronkan tujuan dan perilakunya dan mengembangkan pola interaksi yang cenderung tetap
Mereka meningkatkan investasi mereka dalam hal hubungan dan memperluas lingkup kehidupan mereka yang penting
Mereka sedikit demi sedikit mulai merasakan bahwa ketertarikan mereka masing-masing merupakan ikatan yang tak dapat dipisahkan demi kebaikan hubungan mereka
Mereka meningkatkan perasaan saling menyenangi, mempercayai, dan mencintai demi kepentingan bersama
Mereka melihat hubungan tersebut sebagai yang tak tergeser atau setidak-tidaknya sebagai sesuatu yang unik
Mereka semakin akrab satu sama lain sebagai sejoli dan bukan sebagai individu
Masyarakat dan Perkawinan
Pemilihan pasangan hidup merupakan tugas perkembangan yang didorong faktor biologis dan diatur oleh berbagai aturan atau norma yang berlaku di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam exsogamy norma yang berlaku secara universal, seperti larangan kawin antara laki-laki dan wanita dari satu ibu, satu bapak, kawin antara saudara sekandung, perkawinan antara saudara sepupu, perkawinan antara sesama jenis, dan semacamnya (Eshleman dan Cashion, 1983).
Dalam masa perkawinan, setiap masyarakat di dunia memiliki hukum dan aturan adat yang menjadi pedoman bagi setiap anggota masyarakat dalam menetapkan pasangan hidupnya. Apabila gadis dan perjaka melangsungkan perkawinan, banyak pihak yang kenyataannya akan terlibat, sebab mereka akan turut menerima akibatnya, terutama keluarganya (Light and Keller, 1982).
Disamping faktor biologis dan psikologis, faktor-faktor lain yang dijadikan pertimbangan dalam menetapkan calon pasangan hidup adalah kesamaan-kesamaan dalam hal ras, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi. Khusus tentang faktor sosial ekonomi mencakup berbagai aspek antara lain menyangkut masalah pergaulan dan pekerjaan. Remaja telah banyak memiliki pengalaman dan memperhatikan serta belajar dari keadaan lingkungan, hal ini dengan sendirinya akan dapat membentuk sikap dan cita-cita tentang kehidupan berkeluarga (yang dibayangkan) di masa yang akan datang dan berpengaruh dalam kriteria penetapan pasangan hidupnya. Sikap yang terbentuk pada remaja bervariasi, sehingga dapat menimbulkan perilaku yang positif, seperti belajar dan bekerja keras, baik dalam upaya mewujudkan cita-citanya. Tetapi sebaliknya, hal ini dapat pula menimbulkan bayangan rasa takut untuk melangkah mewujudkan cita-citanya. Akibat ketakutan tersebut tentu saja dapat mempengaruhi perilaku dan perbuatannya di dalam masyarakat yang mungkin merupakan pelarian.
D.     Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Melihat banyaknya faktor-faktor kehidupan remaja, sudah semestinya penyelenggaraan pendidikan juga harus memperhatikan faktor – faktor tersebut.
Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di sekolah maupun luar sekolah dalam bentuk klasikal, yaitu memberlakukan sama semua tindakan pendidikan kepada semua remaja yang ada di dalam kelas, meskipun pada kenyataannya setiap individu berbeda. Oleh karena itu, yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan adalah sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan kepercayaan, kebebasan dan semacamnya.
Usaha yang dapat dilakukan untuk membimbing minat dan kemampuan remaja untuk mencapai cita-citanya antara lain ;
Bimbingan karir dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan orientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungannya.
Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan lokal.
Keberhasilan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal perlu dilakukan :
Bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga
Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan untuk kebebasan emosional dari orang tua.
Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk mengenalkan norma kehidupan social kemasyarakatan perlu dilakukan. Dalam hal ini perlu dilakukan pendidikan praktis melalui organisasi pemuda, pertemuan dengan orang tua secara periodik, dan pemantapan pendidikan agama baik di dalam maupun di luar sekolah.


BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami tarik dari penulisan makalah ini adalah :
Bahwa asalnya  perkembangan kehidupan dan karier remaja tergantung pada tingkat perkembangan IQ atau kemampuan masing-masing remaja sehingga proses perkembangan kehidupan pendidikan dan karier masing-masing remaja berbeda.
Dalam perkembangan kehidupan pendidikan dan karier dipengaruhi oleh berbagai faktor dan pandangan hidup masing-masing individu.
Dalam perkembangan kehidupan pendidikan dan karier remaja banyak hambatan yang dialaminya, namun secara garis besar terbagi 2 yaitu hambatan yang datang dari dalam dirinya sendiri dan datang dari luar diri remaja itu sendiri.
Perkembangan karier remaja yang menurut Ginzberg ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang.
Disamping faktor biologis dan psikologis, faktor-faktor lain yang dijadikan pertimbangan dalam menetapkan calon pasangan hidup adalah kesamaan-kesamaan dalam hal ras, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi. Khusus tentang faktor sosial ekonomi mencakup berbagai aspek antara lain menyangkut masalah pergaulan dan pekerjaan.
B.     Saran
Saran yang dapat kami berikan adalah sebagai calon pendidik maka sebaiknya kita bisa memahami proses perkembangan kehidupan pribadi, pendidikan dan karier, dan kehidupan berkeluarga dengan berbagai karakteristik, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. 
DAFTAR PUSTAKA
Alisuf Sabri,H.M.,Drs. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Proyek Pengadaan Buu Daras/Ajar Atas Biaya Dipa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2005.
Garrison, Carl. Psychology of Adolescence. New Jersey : Prentice-Hall, Inc, 1956.
Hurlock, E. B. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga. 1990.
Kasiram, Moh. Human Development and Education (Saduran Bebas). Surabaya : Penerbit Sinar Wijaya. 1985.
Sunarto dan Agung Hartono. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT. Rineka cipta. 2008

0 komentar:

Posting Komentar